KEDIRI,Radar-Bangsa.com – Sholawat bersahut-sahutan. Alunan musik banjari mengisi ruang Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kediri, Senin (25/8). Di tengah lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, anak-anak tidak hanya diajak mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga belajar tentang satu hal yang jauh lebih panjang maknanya: bagaimana menjadi manusia dengan akhlak yang baik.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sekolah tersebut menjadi ruang untuk menanamkan nilai bahwa pendidikan tidak berhenti pada buku, angka, dan pelajaran di dalam kelas. Ada karakter yang harus tumbuh, ada kebiasaan yang harus dibentuk, dan ada keteladanan yang perlu terus dihidupkan dalam keseharian.
Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin Thoha mengatakan kecintaan kepada Rasulullah semestinya tidak berhenti pada seremoni peringatan Maulid Nabi. Kecintaan itu, menurut dia, harus menjelma menjadi sikap dan perilaku dengan menjadikan Rasulullah sebagai panutan.
Bagi anak-anak Sekolah Rakyat, keteladanan tersebut dinilai penting sebagai bagian dari proses pembentukan karakter. Ketika Rasulullah ditempatkan sebagai idola, nilai-nilai kebaikan diharapkan tidak sekadar dipahami, tetapi perlahan menjadi kebiasaan.
“Ketika kalian menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan, menjadikan Rasulullah sebagai idola, maka ucapan kalian akan menjadi baik, perilaku kalian menjadi baik, hati kalian menjadi baik, pikiran-pikiran kalian menjadi baik. Dan itu tentunya membuat orang tua akan menjadi semakin bahagia,” ujar Qowimuddin.
Namun, menumbuhkan karakter anak bukan pekerjaan sekolah seorang diri. Ada keluarga yang menjadi rumah pertama bagi pendidikan, ada guru yang mendampingi di sekolah, dan ada doa yang mengiringi setiap langkah anak.
Qowimuddin menekankan, ilmu yang diterima anak membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya agar tidak berhenti sebagai pengetahuan. Doa orang tua dan guru menjadi bagian penting agar ilmu tersebut menyentuh hati dan akhirnya tercermin melalui perbuatan.
“Anak harus berdoa untuk dirinya sendiri, didukung, didorong oleh doa guru, oleh doa orang tua. Sentuh hatinya, sentuh kalbunya, sentuh hati yang paling dalam. Tidak ada cara untuk menyentuh itu kecuali dengan doa,” katanya.
Pesan tersebut berjalan seiring dengan pola pendidikan yang diterapkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kediri.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kediri Nur Zam’ah mengatakan pendidikan anak membutuhkan hubungan yang berjalan beriringan antara keluarga dan sekolah. Orang tua terus menguatkan anak melalui doa dari rumah, sementara sekolah memberikan pendampingan selama anak menjalani pendidikan.
“Alhamdulillah. Insyaallah dengan berjalan beriringan, panjenengan dari rumah mendoakan anak-anak, kami yang ada di sekolah merawat anak-anak dengan baik,” ujarnya.
Di sekolah, pembentukan karakter tidak hanya disampaikan lewat nasihat. Anak-anak dibiasakan menjalani berbagai aktivitas yang melatih kedisiplinan, kemandirian, sekaligus tanggung jawab.
Maulid Nabi menjadi salah satu momentum untuk kembali mengingatkan anak-anak pada sosok yang menjadi teladan utama dalam kehidupan umat Islam.
Nur Zam’ah mengatakan anak-anak diajak mengenal sekaligus meneladani sifat dan karakter mulia Rasulullah sebagai bagian dari pembentukan kepribadian.
“Dengan kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, kita bersama-sama bisa meneladani sifat-sifat, karakter mulia, dan segala sesuatu dari Rasulullah,” tuturnya.
Perubahan Kecil yang Berarti
Nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah mulai dirasakan sejumlah orang tua. Salah satunya Ari, ibu dari Mirza, yang memilih Sekolah Rakyat dengan harapan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih berkarakter, disiplin, dan mandiri.
Beberapa bulan setelah menjalani pendidikan, Ari mulai melihat perubahan dalam keseharian putranya. Salah satu yang paling terasa adalah tumbuhnya kemandirian Mirza dalam melakukan pekerjaan yang sebelumnya belum terbiasa ia kerjakan sendiri.
“Sekarang dia sudah bisa mencuci baju sendiri dan lebih ceria dan juga menjadi lebih berkarakter baik,” kata Ari.
Perubahan itu juga tampak dari kebiasaan Mirza menggunakan telepon seluler. Menurut Ari, anaknya kini tidak lagi terlalu sering bermain HP seperti sebelumnya.
Ada pula sisi lain dari pengalaman Mirza yang tidak mudah bagi seorang ibu. Selama bersekolah di Sekolah Rakyat, Mirza belum pernah pulang ke rumah. Ari mengatakan dirinya baru tiga kali bertemu dengan sang anak sejak Mirza mengikuti pendidikan di sana.
Namun, di balik jarak tersebut, Ari melihat kesempatan bagi anaknya untuk belajar hidup lebih mandiri.
Bagi Ari, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat mendapatkan pendidikan. Sekolah itu juga menjadi lingkungan yang memberikan pengalaman dan pembiasaan bagi anak, terutama di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Ari merupakan ibu dari empat anak dan bekerja sebagai pengemudi ojek online. Pada saat yang sama, anak bungsunya merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang membutuhkan biaya perawatan di rumah sakit.
“Jadi, selain terkendala biaya, kami juga ingin pendidikan anak lebih maju. Di sini anak diajari berbagai macam hal,” ujarnya.
Keberadaan Sekolah Rakyat memberikan ruang bagi Mirza untuk memperoleh pendidikan sekaligus pengalaman hidup tanpa menambah beban keluarga untuk berbagai kebutuhan pendidikan di luar sekolah.
Betah Meski Harus Disiplin
Apa yang dirasakan Ari sebagai orang tua ternyata beririsan dengan pengalaman Mirza sendiri.
Di lingkungan sekolah, Mirza mengaku nyaman menjalani hari-harinya. Kegiatan belajar, bertemu teman-teman, hingga berbagai aktivitas yang harus dijalani membuatnya merasa betah.
Disiplin memang menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, bagi Mirza, kedisiplinan itu tidak membuatnya merasa tertekan.
“Saya merasa senang dan tidak tertekan meskipun harus disiplin, fasilitas di sini juga enak,” kata Mirza.
Rutinitas Mirza tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia juga mengikuti kegiatan mengaji yang digelar setiap Senin, Selasa, dan Kamis.
Dari sana, pendidikan menjadi pengalaman yang lebih luas. Anak-anak tidak hanya belajar memahami pelajaran, tetapi juga belajar menjalani rutinitas, mengenal tanggung jawab, membangun kemandirian, serta membentuk kebiasaan yang diharapkan menjadi bagian dari karakter mereka.
Pada akhirnya, Maulid Nabi di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Kediri bukan sekadar perayaan yang dipenuhi lantunan selawat. Di balik suara banjari dan doa yang dipanjatkan, ada ikhtiar untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini.
Sebab, membentuk seorang anak bukan hanya perkara memenuhi kepalanya dengan ilmu. Ada hati yang perlu disentuh, ada perilaku yang perlu diarahkan, ada lingkungan yang perlu dijaga, dan ada doa yang tak boleh putus mengiringi langkahnya.
Di sanalah pendidikan menemukan maknanya: ketika ilmu perlahan berubah menjadi sikap, keteladanan tumbuh menjadi kebiasaan, dan seorang anak belajar menjadi manusia yang lebih baik.